Tinggalkan komentar

Provinsi D.I Yogyakarta dan Provinsi Papua

PROVINSI DI YOGYAKARTA

Profil

Nama Resmi : Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Ibukota : Yogyakarta
Luas Wilayah  : 3.133,15  Km² *)
Jumlah Penduduk : 3.542.078 Jiwa *) 
Suku Bangsa : Jawa, Sunda Parahiyangan, Melayu, Cina, Batak (Tapanuli),  Minang Kabau, Bali, Madura, dan Lain-lain.
Agama  : Islam : 3.084.990 Jiwa,  Kristen Protestan : 92.097 Jiwa, Kristen Katholik : 162.806 Jiwa, Budha : 5.387 Jiwa, Hindu : 5.798 Jiwa.
Wilayah Administrasi : Kab.: 4, Kota: 1,  Kec.: 78,  Kel.: 46,  Desa : 392 *)
Lagu Daerah : Pitik Tukung, Sinom
Website  : http://www.jogjaprov.go.id

*) Sumber : Permendagri Nomor 39 Tahun 2015

*SEJARAH

Daerah Istimewa Yogyakarta atau biasa disingkat dengan DIY adalah salah satu daerah otonom setingkat propinsi yang ada di Indonesia. Propinsi ini beribukota di Yogyakarta. Dari nama daerah ini yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus statusnya sebagai Daerah Istimewa. Status sebagai Daerah Istimewa berkenaan dengan runutan sejarah berdirinya propinsi ini, baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Babad Gianti, Yogyakarta atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa) adalah nama yang diberikan Paku Buwono II (raja Mataram tahun 1719-1727) sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati.Yogyakarta berarti Yogya yang kerta, Yogya yang makmur, sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat berartiYogya yang makmur dan yang paling utama. Sumber lain mengatakan, nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanskrit Ayodhya dalam epos Ramayana. Dalam penggunaannya sehari-hari, Yogyakarta lazim diucapkan Jogja(karta) atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa).

Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta sudah mempunyai tradisi pemerintahan karena Yogyakartaadalah Kasultanan, termasuk di dalamnya terdapat juga Kadipaten Pakualaman. Daerah yang mempunyai asal-usul dengan pemerintahannya sendiri, di jaman penjajahan Hindia Belanda  disebut Zelfbesturende Landschappen. Di jaman kemerdekaan disebut dengan nama Daerah Swapraja.

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri sejak 1755 didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Kadipaten Pakualaman, berdiri sejak 1813, didirikan oleh Pangeran Notokusumo, (saudara Sultan Hamengku Buwono II ) kemudian bergelar Adipati Paku Alam I.

Baik Kasultanan maupun Pakualaman, diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dinyatakan di dalam kontrak politik. Terakhir kontrak politik Kasultanan tercantum dalam Staatsblad 1941 No. 47 dan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad 1941 No. 577.

Pada saat Proklamasi Kemerdekaan RI, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII mengetok kawat kepada Presiden RI, menyatakan bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman menjadi bagian wilayah Negara Republik Indonesia, serta bergabung menjadi satu mewujudkan satu kesatuan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sri sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII sebagai Kepala Daerah dan Wakil  Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Pegangan hukumnya adalah :

  1. Piagam kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 19 Agustus 1945 dari Presiden Republik Indonesia.
  2. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Amanat Sri Paku Alam VIII tertanggal 5 September 1945 ( yang dibuat sendiri-sendiri secara terpisah)
  3. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 30 Oktober 1945 ( yang dibuat bersama dalam satu naskah ).

Dari  4 Januari 1946 hingga 17 Desember 1949, Yogyakarta menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia, justru dimasa perjuangan bahkan mengalami saat-saat yang sangat mendebarkan, hampir-hampir saja Negara Republik Indonesia tamat riwayatnya. Oleh karena itu pemimpin-pemimpin  bangsa Indonesia yang berkumpul dan berjuang di Yogyakarta mempunyai kenangan tersendiri tentang wilayah ini. Apalagi pemuda-pemudanya yang setelah perang selesai, melanjutkan studinya di Universitas Gajah Mada, sebuah Universitas Negeri yang pertama didirikan oleh Presiden Republik Indonesia, sekaligus menjadi monumen hidup untuk memperingati perjuangan Yogyakarta.

Pada saat ini Kraton Yogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan  Puro Pakualaman oleh Sri Paduka Paku Alam IX. Keduanya memainkan peranan yang sangat menentukan di dalam memelihara nilai-nilai budaya dan adat-istiadat Jawa dan merupakan pemersatu masyarakat Yogyakarta.

Dengan dasar pasal 18 Undang-undang 1945, Dewan Perwakilan Rakyat Propisni Daerah Istimewa Yogyakarta menghendaki agar kedudukan sebagai Daerah Istimewa  untuk Daerah Tingkat I, tetap lestari dengan mengingat sejarah pembentukan dan perkembangan Pemerintahan Daerahnya yang sepatutnya dihormati.

Pasal 18 undang-undang dasar 1945 itu menyatakan bahwa “ pembagian Daerah Indonesia atas daerah besar  dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dengan memandang dan mengingat  dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam Daerah-daerah yang bersifat Istimewa “.

Sebagai Daerah Otonom setingkat Propinsi, Daerah Istimewa Yogyakarta dibentuk dengan Undang-undang No.3 tahun 1950, sesuai dengan maksud pasal 18 UUD 1945 tersebut. Disebutkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta adalah meliputi bekas Daerah/Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman.

Sebagai ibukota Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kota Yogyakarta kaya predikat, baik berasal dari sejarah maupun potensi yang ada, seperti sebagai kota perjuangan, kota kebudayaan, kota pelajar, dan kota pariwisata.

Sebutan kota perjuangan untuk kota ini berkenaan dengan peran Yogyakarta dalam konstelasi perjuangan bangsa Indonesia pada jaman kolonial Belanda, jaman penjajahan Jepang, maupun pada jaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Yogyakarta pernah menjadi pusat kerajaan, baik Kerajaan Mataram (Islam), Kesultanan Yogyakarta maupun Kadipaten Pakualaman.

Sebutan kota kebudayaan untuk kota ini berkaitan erat dengan peninggalan-peninggalan budaya bernilai tinggi semasa kerajaan-kerajaan tersebut yang sampai kini masih tetap lestari. Sebutan ini juga berkaitan dengan banyaknya pusat-pusat seni dan budaya. Sebutan kata Mataram yang banyak digunakan sekarang ini, tidak lain adalah sebuah kebanggaan atas kejayaan Kerajaan Mataram.

Predikat sebagai kota pelajar berkaitan dengan sejarah dan peran kota ini dalam dunia pendidikan di Indonesia. Di samping adanya berbagai pendidikan di setiap jenjang pendidikan tersedia di propinsi ini, di Yogyakarta terdapat banyak mahasiswa dan pelajar dari seluruh daerah di Indonesia. Tidak berlebihan bila Yogyakarta disebut sebagai miniatur Indonesia.

Sebutan Yogyakarta sebagai kota pariwisata menggambarkan potensi propinsi ini dalam kacamata kepariwisataan. Yogyakarta adalah daerah tujuan wisata terbesar kedua setelah Bali. Berbagai jenis obyek wisata dikembangkan di wilayah ini, seperti wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata pendidikan, bahkan, yang terbaru, wisata malam.

Disamping predikat-predikat di atas, sejarah dan status Yogyakarta merupakan hal menarik untuk disimak. Nama daerahnya memakai sebutan DIY sekaligus statusnya sebagai Daerah Istimewa. Status Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa berkenaan dengan runutan sejarah Yogyakarta, baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

*ARTI LOGO

  • Landasan Idiil Pancasila, digambarkan dengan bintang emas bersegi lima (Ketuhanan Yang Maha Esa), tugu dan sayap mengembang (Kemanusiaan yang adil dan beradab), bulatan-bulatan berwarna merah dan putih (Persatuan Indonesia), ombak, batu penyangga saka guru/tugu(Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan), danpadi-kapas (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).
  • 17 bunga kapas, 8 daun kapas dan 45 butir padi adalah lambang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
  • Bulatan (golong) dan tugu berbentuk silinder (giling) adalah lambang tata kehidupan gotong royong.
  • Nilai-nilai keagamaan, pendidikan dan kebudayaan, digambarkan dengan bintang emas bersegi lima dan sekuntum bunga melati di puncak tugu. Bunga melati dan tugu yang mencapai bintang menggambarkan rasa sosial dengan pendidikan dan kebudayaan luhur serta ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bunga melati yang sering digunakan dalam upacara sakral mengandung nilai seni, budaya dan religius.
  • Warna-warna merah putih yang dominan, serta tugu yang tegak adalah lambang semangat perjuangan dan kepahlawanan tatanan “mirong” pada hiasan saka guru sebagai hiasan spesifik Yogyakarta, adalah lambang semangat membangun.
  • Sejarah terbentuknya Daerah Istimewa Jogjakarta dilukiskan dengan sayap mengembang berbulu 9 helai di bagian luar dan 8 helai di bagian dalam, menggambarkan peranan Sri sultan Hangmengkubuwono IX dan Sri Paku alam VIII, yang pada tanggal 5 September 1945 mengeluarkan amanatnya untuk menggabungkan daerah Kasultanan Jogjakarta dan Kadipaten Pakualaman menjadi Daerah Istimewa Jogjakarta.
  • Warna hijau tua dan hijau muda adalah lambang keadaan alam Daerah Istimewa Jogjakarta dilukiskan dengan karena ada bagian ngarai yang subur dan ada daerah perbukitan yang kering.
  • Candrasengkala / Suryasengkala terbaca dalam huruf jawa adalah lambang rasa Suka Ngesthi Praja, Yogyakarta Trus Mandhiri, yang artinya dengan berjuang penuh rasa optimisme membangun Daerah Istimewa Jogjakarta untuk tegak selama-lamanya: rasa (6) suka (7) ngesthi (8) praja (1) tahun jawa 1876, Jogja (5) karta (4) trus (9) mandhiri (1) tahun masehi 1945, yaitu tahun de facto berdirinya Daerah Istimewa Jogjakarta.
  • Tugu yang dilingkari dengan padi dan kapas adalah lambang persatuan, adil dan makmur.
  • Ukiran, sungging dan prada yang indah adalah lambang nilai-nilai peradaban yang luhur digambarkan secara menyeluruh berwujud.

*KONDISI GEOGRAFIS


I.BATAS WILAYAH
Kota Yogyakarta berkedudukan sebagai ibukota Propinsi DIY dan merupakan satu-satunya daerah tingkat II yang berstatus Kota di samping 4 daerah tingkat II lainnya yang berstatus Kabupaten
#Kota Yogyakarta terletak ditengah-tengah Propinsi DIY, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut
Sebelah utara : Kabupaten Sleman
Sebelah timur : Kabupaten Bantul & Sleman
Sebelah selatan : Kabupaten Bantul
Sebelah barat : Kabupaten Bantul & Sleman
Wilayah Kota Yogyakarta terbentang antara 110o 24I 19II sampai 110o 28I 53II Bujur Timur dan 7o 15I 24II sampai 7o 49I 26II Lintang Selatan dengan ketinggian rata-rata 114 m diatas permukaan laut
II.KEADAAN ALAM
Secara garis besar Kota Yogyakarta merupakan dataran rendah dimana dari barat ke timur relatif datar dan dari utara ke selatan memiliki kemiringan ± 1 derajat, serta terdapat 3 (tiga) sungai yang melintas Kota Yogyakarta, yaitu :
Sebelah timur adalah Sungai Gajah Wong
Bagian tengah adalah Sungai Code
Sebelah barat adalah Sungai Winongo
III.LUAS WILAYAH
Kota Yogyakarta memiliki luas wilayah tersempit dibandingkan dengan daerah tingkat II lainnya, yaitu 32,5 Km² yang berarti 1,025% dari luas wilayah Propinsi DIY. Dengan luas 3.250 hektar tersebut terbagi menjadi 14 Kecamatan, 45 Kelurahan, 617 RW, dan 2.531 RT, serta dihuni oleh 428.282 jiwa (sumber data dari SIAK per tanggal 28 Februari 2013) dengan kepadatan rata-rata 13.177 jiwa/Km²
IV.TIPE TANAH
Kondisi tanah Kota Yogyakarta cukup subur dan memungkinkan ditanami berbagai tanaman pertanian maupun perdagangan, disebabkan oleh letaknya yang berada didataran lereng gunung Merapi (fluvia vulcanic foot plain) yang garis besarnya mengandung tanah regosol atau tanah vulkanis muda Sejalan dengan perkembangan Perkotaan dan Pemukiman yang pesat, lahan pertanian Kota setiap tahun mengalami penyusutan.  Data tahun 1999 menunjukkan penyusutan 7,8% dari luas area Kota Yogyakarta (3.249,75) karena beralih fungsi, (lahan pekarangan)
V.IKLIM
Tipe iklim “AM dan AW”, curah hujan rata-rata 2.012 mm/thn dengan 119 hari hujan, suhu rata-rata 27,2°C dan kelembaban rata-rata 24,7%.  Angin pada umumnya bertiup angin muson dan pada musim hujan bertiup angin barat daya dengan arah 220°  bersifat basah dan mendatangkan hujan, pada musim kemarau bertiup angin muson tenggara yang agak kering dengan arah ± 90° – 140° dengan rata-rata kecepatan 5-16 knot/jam
VI.DEMOGRAFI
Pertambahan penduduk Kota dari tahun ke tahun cukup tinggi, pada akhir tahun 1999 jumlah penduduk Kota 490.433 jiwa dan sampai pada akhir Juni 2000 tercatat penduduk Kota Yogyakarta sebanyak 493.903 jiwa dengan tingkat kepadatan rata-rata 15.197/km².  Angka harapan hidup penduduk Kota Yogyakarta menurut jenis kelamin, laki-laki usia 72,25 tahun dan perempuan usia 76,31 tahun.

*NILAI BUDAYA

Upacara Labuhan : Parang Tritis, Parang Kusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Kayangan
Upacara Grebeg : Grebeg Poso pada tanggal 1 Syawal, Grebeg Besar pada tanggal 10 Besar, Grebeg Mulud pada tanggal 12 Rabbiulawal
Upacara Saparan : Bulan Sapar di Gamping Sleman
Upacara Metri Desa (Bersih Desa) : Di semua desa di wilayah Daerah Istimewa Jogjakarta

*FALSAFAH MASYARAKAT SETEMPAT
Dasar falsafah pembangunan daerah Propinsi Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) adalah Hamemayu Hayuning Bawono, sebagai cita-cita luhur untuk menyempurnakan tata nilai kehidupan masyarakat Jogjakarta berdasarkan nilai budaya daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Hamemayu Hayuning Bawono bermakna suatu filosofi kepemimpinan yang selalu mengupayakan peningkatan kesejahteraan rakyat dan mendorong terciptanya sikap serta perilaku hidup individu yang menekankan keselarasan dan keserasian antara sesama manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Illahi dalam melaksanakan hidup dan kehidupannya.

Hakikat budaya adalah hasil cipta, karsa dan rasa, yang diyakini masyarakat sebagai sesuatu yang benar dan indah. Demikian pula budaya Ngayogyakarta Hadiningrat, yang diyakini sebagai salah satu acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Secara filosofis, budaya jawa, khususnya budaya Ngayogyakarta Hadiningrat dapat digunakan sebagai sarana untuk mewujudkan masyarakat ayom, ayem, tata, titi tentrem, karto raharjo. Dengan perkataan lain, budaya tersebut akan bermuara pada masyarakat yang penuh dengan kedamaian, keamanan, keteraturan, dan sejahtera.

*FLORA DAN FAUNA

Flora Identitas Kota dan Kabupaten di Yogyakarta

Flora Identitas kota dan kabupaten di kota Yogyakarta merupakan tumbuhan khas yang menjadi maskot kota dan kabupaten masing-masing. Tumbuhan-tumbuhan ini melengkapi kepel yang ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berikut adalah daftar flora (tumbuhan) yang ditetapkan sebagai flora identitas 5 (lima) kota dan kabupaten di wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

  1. Kota Yogyakarta : Flora Identitas kota Yogyakarta adalah Kelapa Gading (Cocos nucifera “kultivar gading”)
  2. Kabupaten Bantul : Flora Identitas kabupaten Bantul adalah Sawo kecik (Manilkara kauki)
  3. Kabupaten Sleman : Flora Identitas kabupaten Sleman adalah Salak Pondoh (Salacca zalacca kultivar pondoh)
  4. Kabupaten Kulon Progo : Flora Identitas kabupaten Kulon Progo adalah Manggis Kalagesing (Garcinia mangostana kultivar kalagesing)
  5. Kabupaten Gunung Kidul : Flora Identitas kabupaten Gunung Kidul adalah pohon Nangka (Artocarpus heterophyllus)

Fauna Identitas Kota dan Kabupaten di Yogyakarta

Kabupaten dan Kota di Yogyakarta memiliki fauna identitas sebagai satwa khas dan maskot kota dan kabupaten masing-masing. Ini melengkapi penetapan kepel dan burung perkutut sebagai flora dan fauna provinsi daerah Istimewa Yogyakarta. Berikut adalah daftar binatang (satwa) yang ditetapkan sebagai fauna identitas kota dan kabupaten di wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

  1.  Kota Yogyakarta : Fauna Identitas kota Yogyakarta adalah burung tekukur atau merbuk dalam (Streptopelia chinensis tigrina) yang dalam bahasa Inggris sering disebut sebagai Spotted Dove.
  2. Kabupaten Bantul : Fauna Identitas kabupaten Bantul adalah dederuk jawa atau burung puter (Streptopelia bitorquata) yang dalam bahasa Inggris sering disebut sebagai Island Collared Dove.
  3. Kabupaten Sleman : Fauna Identitas kabupaten Sleman adalah burung anis merah atau punglor merah (Zoothera citrina) yang dalam bahasa Inggris sering disebut sebagai Orange-headed Thrush.
  4. Kabupaten Kulon Progo : Fauna Identitas kabupaten Kulon Progo adalah burung kacer (Copsychus saularis). Burung ini disebut juga sebagai burung kucica kampung, murai, murai kampung yang dalam bahasa Inggris sering disebut sebagai Oriental Magpie Robin.
  5. Kabupaten Gunung Kidul : Fauna Identitas kabupaten Gunung Kidul adalah Lebah Madu (Apis indica) yang biasa disebut juga lebah madu kecil.

PAPUA

Profil

Nama Resmi : Provinsi Papua
Ibukota : Jayapura
Luas Wilayah : 319.036,05 Km2 *)
Jumlah Penduduk : 3.888.394 Jiwa  *)
Suku Bangsa :

 

Aitinyo, Aefak, Asmat, Agast, Dani, Ayamaru, Mandacan, Biak, Serui, Pendatang (Jawa, Makassar, Batak, Manado) dll.
Agama : Kristen Protestan 51,20%, Katholik 25,42%, Islam 23%, Budha 0,13%, Hindu 0,25%, lain-lain 1%.
Wilayah Administrasi :

 

Kab.: 28,  Kota : 1,  Kec.: 524,  Kel.: 107,  Desa : 5.118  *)
Lagu Daerah : Apuse dan Yamko Rambe Yamko
Website: :

 

http://www.papua.go.id

*) Sumber : Permendagri Nomor 39 Tahun 2015

*SEJARAH

Papua adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Nugini bagian barat atau west New Guinea.Papua juga sering disebut sebagai Papua Barat karena Papua bisa merujuk kepada seluruh pulau Nugini termasuk belahan timur negara tetangga, east New Guinea atau Papua Nugini. Papua Barat adalah sebutan yang lebih disukai para nasionalis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara sendiri. Provinsi ini dulu dikenal dengan panggilan Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973, namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002. Nama provinsi ini diganti menjadi Papua sesuai UU No 21/2001 Otonomi Khusus Papua. Pada masa era kolonial Belanda, daerah ini disebut Nugini Belanda (Dutch New Guinea).

Asal kata Irian adalah Ikut Republik Indonesia Anti-Netherland.Kata Papua sendiri berasal dari bahasa melayu yang berarti rambut keriting, sebuah gambaran yang mengacu pada penampilan fisik suku-suku asli.

Pada tahun 2004, disertai oleh berbagai protes, Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Irian Jaya Barat yang sekarang menjadi Provinsi Papua Barat .

*ARTI LOGO

Bentuk lambang daerah dan artinya berdasarkan Perda No.7 Tahun 1992

Wadah Lambang Daerah berbentuk PERISAI BERPAJU LIMA adalah menggambarkan kesiap-siagaan dan ketahanan. Paju lima  menunjukkan jumlah sila dalam Pancasila. Warna dasar kuning emas  pada bagian bawah perisai dan pita tersebut melambangkan keagungan yang mengandung pengertian sebagai gambaran cita usaha pengalian hasil – hasil kekayaan bumi dan alamnya. Warna dasar biru tua pada bagian atas perisai tersebut, melukiskan kekayaan lautan/ perairan Papua. Jalur kuning melingkari tepian perisai tersebut menggambarkan keyakinan tercapainya segala usaha dan perjuangan. Jalur hitam yang melingkari pita dan warna tulisan hitam menggambarkan kemantapan dan kebulatan tekad untuk berkarya swadaya.

Tiga buah TUGU yang masing-masing berwarna abu-abu, sebelah  kanan dan berwarna putih sebelah kiri di atas TUMPUKAN BATU persegi panjang, bersusun 2 (dua) masing-masing berderet 6 (enam) dan 9 (sembilan) yang berwarna putih bergaris-garis batas hitam: Perjuangan TRIKORA dan kemenangan PEPERA Tahun 1969. Tumpukan batu tersebut juga melambangkan Dinamika Pembangunan di Daerah ini. Warna abu-abu putih dan bergaris-garis hitam melambangkan ketenangan dan kesucian. Setangkai BUAH PADI yang berisi 17 (tujuh belas) butir padi berwarna kuning bertangkai  kuning pula yang terdapat di sebelah kanan dan setangkai BUAH KAPAS yang terdiri dari 8 (delapan) buah berwarna putih bertangkai Hijau Tua yang terdapat disebelah kiri daripada tiga  buah Tugu tersebut yang diikat dengan sehelai PITA berwarna merah berlekuk 4 (empat) dan berjurai 5 (lima) adalah melukiskan kesatuan dan persatuan Bangsa yang dijiwai oleh semangat Proklamasi 17 Agustus 1945 untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Tiga buah GUNUNG berjajar yang sama tingginya berwarna hijau tua dan berpuncak putih salju adalah menggambarkan ciri khas Daerah Papua. Warna hijau tua ketiga buah gunung dan tangkai dari buah kapas itu, melambangkan kesuburan tanah / kekayaan alam daratan Papua. Sedangkan tulisan “Papua” dalam huruf cetak yang berwarna kuning adalah menggambarkan keluhuran / keagungan cita.

*GEOGRAFIS

I.Luas Wilayah
Luas wilayah provinsi Papua adalah 317. 062 (Km2). Jika dibandingkan dengan wilayah Republik Indonesia, maka luas wilayah Provinsi Papua merupakan 19,33 persen dari luas Negara Indonesia yang mencapai 1.890.754 (Km2). Ini merupakan provinsi terluas di Indonesia.

Persentase penduduk Papua jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia secara keseluruhan tercatat sebesar 0.77% pada tahun 1971. Kemudian pada tahun 1980 meningkat menjadi 0,79%. Tahun 1990 peningkatan persentase jumlah penduduk Papua sangat tinggi yang mencapai 0,91%. Pada tahun 2000 mengalami penurunan menjadi 0.86% dan terakhir pada tahun 2005, pesentase jumlah penduduk Papua tercatat sebanyak 0.85%.

Kabupaten Merauke merupakan daerah yang terluas yaitu 4397 Ha atau 13,87% dari total luas Provinsi Papua. Sedangkan Kota Jayapura merupakan daerah terkecil tetapi apabila dibandingkan dengan kota se-Indonesia, maka Kota Jayapura merupakan kota yang terluas. Kota Wamena (Jayawijaya) dengan ketinggian 2000 – 3000 meter diatas permukaan laut merupakan kota tertinggi dan terdingin di Papua. Sedangkan yang terendah adalah kota Merauke dengan ketinggian 3.5 meter diatas permukaan laut.

II.Letak Geografis
Provinsi Papua dengan luas 31.7062 Km2, terletak diantara 130 ° – 141° Bujur Timur dan 2°25′ Lintang Utara – 9° Lintang Selatan.

II.Batas Wilayah.
Provinsi Papua berbatasan dengan :
Sebelah Utara                      : Samudera Fasifik/Pacific Ocean
Sebelah Selatan                   : Laut Arafura/Arafura Sea
Sebelah Barat                       : Provinsi Papua Barat
Sebelah Timur                       :Papua New Guinea

IV.Topografi
Pegunungan Utama di Provinsi Papua terdiri atas Pegunungan Kobowre di Nabire, Pegunungan Sudirman di Enarotali dan Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya di Jayawijaya, Pegunungan Vanres di Mamberamo, Pegunungan Gauntier dan Pegunungan Wisnumurti.
Gunung dan Puncak di Provinsi Papua yang berada di deretan pegunungan tersebut adalah :
Gunung Waspada (1.070 m)
Puncak Jaya (5.030 m)
Puncak Trikora (4.750 m)
Puncak Yamin (4.350 m)
Puncak Mandala (4.700 m)
Gunung Dom (1332 m)

Pegunungan Jayawijaya merupakan suatu perluasan cordillera yang mengubah dataran tinggi Papua yang berpusat New Guinea, membentang sepanjang 400 mil (640 km) dari timur ke barat menyeberangi bagian tengah Papua dengan puncak tertingginya adalah Puncak Jaya 16,502 kaki (5,030 meter). Puncak dengan hutan lebat, kecuali salah satu puncak tertinggi yang terdiri dari batu karang glaciated.

Di bagian utara terdapat lembah yang dialiri sungai Tariku Dan Taritatu Sungai dan merupakan anak sungai Mamberamo Sungai. Kebanyakan dataran rendah di semenanjung Bomberai berjejer kearah barat sedangkan di Doberai yang bergunung-gunung ( Vogelkop; Belanda, “Kepala Burung”) berjejer kearah barat laut.

Sepanjang bagian selatan pegunungan Maoke terdapat suatu area berpaya-paya yang luas [yang] yang dialiri oleh air dari sungai Digul, Pulau, Braza, Baliem, Loren, Armandville, Blumen, Semara, dan Mapi Sungai. Daerah Gunung yang tinggi ditutupi oleh lembah-lembah yang ditumbuhi rumput kasar, dan tumbuh-tumbuhan hutan-hujan tropis. Sedangkan area utara pegunungan tengah ditutupi oleh hutan basah. Di antaranya banyak ditumbuhi varieta pohon palem (sagu, kelapa, dan nipa), kayu cendana, kayu hitam, karet, casuarina, pohon cedar, buah sukun, dan bakau; anggrek dan pakis tumbuh dengan subur di hutan basah tersebut. Kehidupan rimba meliputi binatang berkantung, monotremes (binatang menyusui), ular, buaya, katup/kupu-kupu, burung kasuari, cenderawasih, trenggiling, anjing liar, babi liar, kura-kura darat, kadal kanguru pohon, burung bangau, merpati hijau, dan berbagai jenis burung lainnya.

V.Kondisi lahan
Persentase lahan kritis di Papua paling besar dimiliki oleh Kabupaten Merauke. Selain itu, kabupaten ini juga merupakan kabupaten yang memiliki kondisi tanah yang sangat subur dan sangat cocok untuk pertanian. Secara umum, kondisi lahan di Papua sangat memungkinkan untuk lokasi pertanian maupun perkebunan. Hingga saat ini lahan pertanian di Papua masih digunakan oleh sektor-sektor pertanian tertentu saja. Yang paling dominan adalah sawah dan ubi kayu. Daerah potensial penghasil ubi kayu adalah KabupatenWaropen dan Kabupaten Jayapura dengan produksi ubi kayu sebesar 2.946 ton dan 2.444 ton pada tahun 2005. Produksi sayur – sayuran selama tahun 2005 pada beberapa komoditi mengalami penurunan bila dibandingkan dengan keadaan tahun 2004, demikian juga pada sub kelompok buah-buahan.

Selain pertanian yang sudah disebutkan sebelumnya, lahan kritis di Papua sebagian besar masih merupakan hutan yang mencapai 25,82 juta hektar dan terbagi menjadi hutan lindung (34,08%) dan hutan produksi (33,22%). Lahan kritis yang sudah digunakan selain untuk pertanian, juga digunakan untuk perkebunan, peternakan dan perikanan.  Luas areal tanaman perkebunan rakyat pada tahun 2005 sebesar 97.934 ha dan produksi tanaman perkebunan rakyat pada tahun 2005 sebesar 62.153 ton. Sumbangan terbesar produksi tanaman perkebunan rakyat berasal dari tanaman kelapa sawit (49,91%) dan kelapa dalam (19,87%).

Populasi ternak besar dan kecil di Papua selama tahun 2005 pada umumnya naik. Dibanding tahun 2004, ternak kerbau naik 14,54%, sapi 8,6%, kuda 30,36%, kambing 5,37%, babi 19,50% dan domba -7,88%. Kondisi serupa terjadi pada populasi ternak kecil, dimana secara umum terjadi peningkatan. Populasi ternak ayam kampung naik 18,99%, ayam pedaging 5,90%, ayam ras petelur 19,58%, dan itik -7,06%. Produksi perikanan secara keseluruhan selama tahun 2005 mencapai 209.210,3 ton, meningkat 13,29% dibanding tahun 2004, sedangkan 95,83% dari total produksi merupakan hasil produksi perikanan laut.

VI.Iklim dan Cuaca
Kota Jayapura merupakan daerah dengan suhu udara tertinggi, mencapai 28,2 ºC ditahun 2005 sedangkan Wamena merupakan daerah dengan suhu udara terendah yang mencapai 19,4 ºC pada tahun 2004. Persentase kelembaban udara tertinggi mencapai 87% di Biak pada tahun 2005 dan terendah mencapai 77% di Serui pada tahun 2001. Rata-rata penyinaran matahari tercatat di Merauke yang mencapai 70% pada tahun 2005 sedangkan persentase terendah tercatat pada tahun 2003 di Biak yang mencapai 37%.

*NILAI BUDAYA

Pakaian Adat

  • Koteka, merupakan pakaian yang biasanya dipakai oleh kaum laki-Iaki untuk menutupi auratnya (kelamin) yang sampai saat ini merupakan pakaian adat yang digunakan di daerah pedalaman, pegunungan dan lembah di daratan Papua (Asmat, Dani, Wamena).
  • Tas Noken, terbuat dari kulit kayu lalu dikeringkan dan dianyam merupakan sebuah tas yang biasanya untuk memuat hasil buruan, hasil pertanian, makanan, dan lain-lain.
  • Panah, tombak dan parang merupakan senjata yang biasanya digunakan untuk berperang antar suku dan juga merupakan perlengkapan berburu.

Upacara-upacara Adat 

  • Upacara Pemotongan Jari Tangan, yang biasanya dilakukan pada saat ada salah seorang anggota keluarga meninggal dunia (Wamena).
  • Upacara Pernikahan, biasanya prosesi pernikahan/perkawinan antara satu suku dengan suku lainnya yang ada di Papua tidaklah sama.
  • Bakar Batu, seperti halnya upacara perkawinan nama/istilah dan prosesi dari upacara tersebut tiap suku berbeda satu dengan yang lainnya.

 

*FILSAFAT HIDUP MASYARAKAT SETEMPAT

“Barang siapa yang bekerja dengan jujur di atas Tanah ini …….

Mereka akan melihat tanda heran yang satu kepada tanda heran yang lain… ”

*FLORA DAN FAUNA

Flora

Di daratan Papua sekita 75% wilayah tanah daratannya ditumbuhi oleh hutan-hutan tropis yang tebal serta mengandung ragam jenis kayu yang terbesar secara heterogen. Sebagian besar dari hutan tersebut belum pernah dijamah oleh manusia. Salah satu keunikan hutan hujan tropis di wilayah ini adalah selalu ditutupi kabut yang mengindikasikan bahwa hutan di Papua memiliki tingkat kelembaban yang tinggi.

Jenis flora di Papua memiliki persamaan signifikan dengan jenis flora di benua Australia. Adapun jenis flora yang terdapat di Papua adalah Auranlaris, librocolnus, grevillea, ebny-dium dan lain-lain.

Di Papua terdapat flora alam yang pada saat ini sedang dalam pengembangan baik secara nasional maupun internasional yaitu sejenis anggrek yang termasuk di dalam Formika Orctdocede yang langka di dunia. Anggrek alam Papua tumbuhnya terbesar dari pantai lautan rawa sampai ke pegunungan. Umumnya hidup sebagai epihite menembet pada pohon-pohon maupun di atas batu-batuan serta di atas tanah, humus di bawah hutan primer.

Pohon Arancia, Librocedus, Metrosideres, Tristania, Meloleuca, Darydium, dan lain-lain, tumbuhan atau jenis pohon yang merupakan cid khas dari Papua adalah pohon Papua Cedrum Sp dan Podocarpus Popuanus.

Fauna

Seperti halnya dengan flora, keadaan di Papua pun bermacam­macam dalam dunia hewan misalnya, jenis yang terdapat di Papua tidak sama dengan jenis hewan di daerah-daerah di Indonesia lainnya seperti Kangguru, Kasuari, Mambruk dan lain-lain. Demikian pula sebaliknya jenis hewan tertentu yang terdapat di Indonesia lainnya tidak terdapat di Papua seperti Gajah, Harimau, Orang Utan dan lain-lain. Fauna di Papua terdapat persamaan dengan fauna di Australia, misalnya Kangguru, Kus-kus dan lain-lain.

Burung Cendrawasih merupakan burung yang cantik di dunia dan hanya terdapat di Papua. Selain burung Cendrawasih terdapat jenis burung lainnya seperti Mambruk, Kasuari, Kakatua dan lain-lain yang memberikan corak tersendiri untuk keindahan daerah ini.

Hewan-hewan yang langka dan dilindungi adalah burung Kakatua Putih, Kakatua Hitam, Kasuari, Nuri, Mambruk dan lain-lain yang termasuk burung Cendrawasih. Jenis fauna taut Papua jugs banyak dan beraneka ragam, misalnya ikan Cakalang, ikan Hiu, Udang dan sejenis ikan lainnya.

Wilayah Kabupaten Intan Jaya memiliki beraneka ragam Flora dan Fauna, yang sesuai dengan khas sifatnya. Maka daerah ini menjadi suatu tempat yang menjanjikan untuk melakukan penelitian tapangan bagi pars ahli ilmu alam dan ahli ilmu lain.

Fauna yang dapat dijumpai di Kabupaten Intan Jaya, seperti:

  1. Cenderawasih (Nduni Bega, lokalParadisoda)
  2. Kasuari (Jugi, lokal/Casuarius)
  3. Beberapa jenis Elang (Kekelaga, lokal/Acepitridae)
  4. Merpati (Wonow, lokal)
  5. Walet (Uligi, lokal)
  6. Beo/Bayan/Nuri (Mbigigi, tokailLoriusroratus)
  7. Babi hutan (Tau Wogo, lokal)
  8. Kanguru Tanah (Malabiso, lokal/Thylogate Spp)
  9. Kus-kus/Tikus tanah (Jaso-Weta, Mal)
  10. Wodaa/Phalayer Spp
  11. Berbagai jenis serangga (Insectae)
  12. Berbagai jenis burung lainnya, seperti : Red Throated Bee Eater, Black Headed Gonolek, Red Chested Sunbird dan lain sebagainya.

Sumber :

( D.I YOGYAKARTA )

http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/provinsi/detail/34/di-yogyakarta#nilaibudaya

http://www.jogjakota.go.id/about/kondisi-geografis-kota-yogyakarta

https://gabriellaaningtyas.wordpress.com/2013/10/28/maskot-flora-dan-fauna-kota-yogyakarta/

( PAPUA )

http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/provinsi/detail/91/papua

http://pemkam.papua.go.id/data_geografis.php

http://intanjayakab.go.id/flora.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: