Tinggalkan komentar

Akhlaq Etika dan Moral

Gambar

 

A.   PENGERTIAN DAN PENTINGNYA AKHLAK

 

Pengertian akhlak dalam Islam dari segi bahasa berasal dari kata “khulq” yang berarti / perilaku, perangai atau tabiat/. Maksud ini terkandung dalam kata-kata Aisyah berkaitan akhlak Rasulullah Saw yang artinya “Akhlaknya (Rasulullah) adalah al-Quran”. Akhlak Rasulullah yang dimaksudkan di dalam kata-kata di atas ialah kepercayaan, keyakinan, pegangan, sikap dan tingkah laku Rasulullah Saw yang semuanya merupakan pelaksanaan ajaran Al quran. Kita wajib meniru akhlaq seperti Nabi Muhammad Sholallahu alaihi wassalaam. Beliau adalah manusia terbaik yang pernah diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala. Sebagai orang mukmin kita sangat wajib meniru budi pekerti dan keluhuran akhlaqnya. Ini dijelaskan dalam Surah al quran Al-Ahzab : 21

لَقَدْكانَلَكُمْفي‏رَسُولِاللهِأُسْوَةٌحَسَنَةٌلِمَنْكانَيَرْجُوااللهَوَالْيَوْمَالْآخِرَوَذَكَرَاللهَكَثيراً

Artinya : “Sesungguhnya adalah bagi kamu pada Rasulullah itu teladan yang baik; Bagi barangsiapa yang mengharapkan Allah dan Hari Kemudian dan yang banyak ingat kepada Allah”. (Qs Al Ahzab : 21)

Recitation : “Undoubtedly, you have the best in the following of the Messenger, for him who hopes for Allah and the Last Day and remembers Allah much”. (Qs Al Ahzab : 21)

Dan juga dalam Hadist (Riwayat Malik) disebutkan :

Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia.”

Prophet Muhammad said : “Surely i’m at sent to improve the glory of their attitude of man”

 

Pengertian akhlak dalam Islam dari segi bahasa berarti budi pekerti, adab sopan, tingkah laku, dan tatasusila. Menurut tokoh-tokoh ilmu psikologi Islam, takrif akhlak perlu dilihat dari dua sudut. Pertama, Bataniah yaitu akhlak merupakan satu ilmu yang membahas masalah-masalah manusia yang mengupas hal-hal kejiwaan. Kedua, dari Suluq Azzahariah,akhlak ialah satu cara atau jalan yang memperlihatkan sesuatu yang berbentuk zahir. Tutur kata, tingkah laku dan watak yang menjadi ukuran pribadinya.

Pengertian akhlak dalam Islam menurut Al Ghazali adalah suatu keadaan yang tertanam di dalam jiwa yang menampilkan perbuatan-perbuatan dengan senang tanpa memerlukan pemikiran dan penelitian. Apabila perbuatan yang keluar itu baik dan terpuji menurut syara dan akal, perbuatan itu dinamakan akhlak yang mulia (Akhlaqul Mahmudah). Sebaliknya apabila keluar perbuatan yang buruk, ia dinamakan akhlak yang buruk. (Akhlaqul Mazzmumah)

 

Ada beberapa hal yang mendorong akhlaq seseorang untuk berbuat baik, diantaranya :

1.      Karena bujukan atau ancaman dari manusia lain

2.      Mengharap pujian atau karena takut mendapat cela

3.      Karena kebaikan dirinya (dorongan hati nurani)

4.      Mengharapkan pahala dan surga

5.      Takut kepada azab Allah

6.      Mengharap keridhoan Allah semata

Tujuan pengertian akhlak dalam Islam adalah menghasilkan nilai akhlak saja, bukan nilai materi, nilai kemanusiaan, atau nilai kerohanian. Selain itu, nilai-nilai ini tidak boleh dicampuradukkan dengan akhlak agar tidak terjadi kebimbangan dalam memiliki akhlak beserta sifat-sifatnya. Perlu diperhatikan di sini, nilai materi harus dijauhkan dari akhlak karena akan menghasilkan pelaksanaan akhlak yang hanya mencari keuntungan. Justru, hal ini akan sangat membahayakan akhlak.

Beberapa alasan betapa pentingnya pengertian akhlak dalam Islam, yaitu:

* Akhlak adalah faktor penentu derajat seseorang.

* Akhlak merupakan buah ibadah,.

* Keluhuran akhlak adalah amal terberat di akhirat.

* Lambang kualitas masyarakat. Untuk membentuk akhlak yang baik.

* Mengatur kepribadiaan seseorang untuk lebih baik.                                                                                     

 

B.KONSEP AKHLAQ DAN MORAL ETIKA

 

Konsep Akhlaq yaitu :

  • Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluq, artinya tingkah laku, perangai, tabi’at. Sedangkan menurut istilah, akhlak adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikir dan direnung lagi 
  • Akhlak adalah sikap yang melekat pada diri seseorang secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan.
  • Ibn Maskawaih menyatakan akhlak ialah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan.
  • Abdullah Dirroz dalam Tatapangarsa (1984) menegaskan“ Akhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak  yang benar ( dalam hal akhlak baik ) atau pihak yang  jahat ( dalam hal akhlak yang  tidak baik ).
  • Imam Ghozali menyatakan akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pikiran.
  • Akhlak yang baik disebut akhlakul karimah (akhlak mahmudah).Akhlak  yang buruk disebut akhlakul mazmumah.

Pernjelasan dari Etika

  • Etika dalam islam disebut akhlak. Berasal dari bahasa Arab al-akhlak yang merupakan bentuk jamak dari al-khuluq yang berartibudipekerti, tabiat atau watak yang tercantum dalam al-qur’an sebagai konsideran. (Pertimbangan yg menjadi dasar penetapan keputusan, peraturan)

 

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

 

“ Sesungguhnya engkau Muhammad berada di atas budi pekerti yang agung” ( Q.S Al-Qalam:4)

“ And indeed, you (Muhammad ) are of a great moral character. ( Q.S Al-Qalam:4)

 

  • Etika merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang di lakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk, dengan kata lain aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia.
  • Etika secara etimologi berasal dari bahasa Yunani ethos , yang berarti adat kebiasaan.
  • Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang asas – asas akhlak. Ahmad Amin menegaskan etika ialah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
  • Etika adalah sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem tata nilai suatu masyarakat tertentu, Etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu atau filsafat, karena itu yang menjadi standar baik dan buruk itu adalah akal manusia. Etika bersifat relative yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman.

 

 

Penjelasan dari Moral

  • Moral secara etimologis berasal dari bahasa latin Mores, bentuk plural dari Mos yang berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan.
  • Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, dari W.J.S Poerwodarminto dijelaskan bahwa moral adalah ajaran tentang baik-buruk dari perbuatan.
  • Moral secara terminologis adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar –salah, baik-buruk (Nata 2002)

 

  1. Hubungan Etika, Moral, dan Akhlak

Apabila etika dan moral dihubungkan maka dapat dikatakan bahwa antara etika dan moral memiliki obyek yang sama yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia untuk selanjutnya di tentukan posisinya baik atau buruk. Tolak ukur yang di gunakan dalam moral untuk mengukur tingkah laku manusia adalah adat istiadat, kebiasaan, dan lainnya yang berlaku dimasyarakat.

Menurut Ibnu Arabi hati manusia itu bisa baik dan buruk, karena di dalam diri manusia terdapat 3 nafsu :

 

  1. Syahwaniyah

Nafsu ini ada pada diri manusia dan binatang yaitu nafsu pada kelezatan (makanan,minuman) dan syahwat jasmani. Apabila manusia tidak mengendalikan nafsu ini maka manusia tidak ada bedanya dengan binatang.

  1. Al-Ghadabiyah

Nafsu ini juga ada pada diri manusia dan binatang , cenderung pada marah, merusak, ambisi dan senang menguasai dan mengalahkan orang lain serta lebih kuat di banding dengan syahwaniyah dan berbahaya jika tidak dikendalikan.

  1. Al-Nathiqah

Nafsu yang membedakan manusia dengan binatang. Nafsu ini mampu membuat berzikir, mengambil hikmah, memahami fenomena alam dan manusia menjadi agung, besar cita-citanya, kagum terhadap dirinya hingga bersyukur kepada Allah. Yang menjadikan manusia dapat mengendalikan 2 nafsu di atas dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

 

 

 

C.AKHLAK TERHADAP ALLAH SWT

 

       Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai khalik. Dan sebagai titik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkaunya (Quraish Shihab).

 

 

ALASAN BERAKHLAK KEPADA ALLAH SWT

 

Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah:

-Pertama, karena Allah-lah yang mencipatakan manusia. Dia yang menciptakan manusia dari air yang ditumpahkan keluar dari tulang punggung dan tulang rusuk hal ini sebagai mana di firman kan oleh Allah dalam surat at-Thariq ayat 5-7. sebagai berikut :

فَلْيَنظُرِ اْلإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? ( Q.S At-Thariq:5)

 “So let man observe from what he was created.( Q.S At-Thariq:5)

 

خُلِقَ مِن مَّآءٍ دَافِقٍ

“Dia tercipta dari air yang terpancar, ( Q.S At-Thariq:6)

“He was created from a fluid, ejected, ( Q.S At-Thariq:6)

 

يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَآئِبِ

“yang terpancar dari tulang sulbi dan tulang dada. ( Q.S At-Thariq:7)

“Emerging from between the backbone and the ribs. ( Q.S At-Thariq:7)

-Kedua, karena Allah lah yang tlah memberikan perlengkapan panca indera, berupa pendengaran ,penglihatan, akal pikiran dan hati sanubari, disamping anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia. Firman Allah dalam surat, an-Nahl ayat, 78.

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ

السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

“Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.( Q.S an-Nahl : 78)

And Allah has extracted you from the wombs of your mothers not knowing a thing, and He made for you hearing and vision and intellect that perhaps you would be grateful. ( Q.S an-Nahl : 78)

-Ketiga, karena Allah-lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan lainnya.

 

– Keempat, Allah lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan,daratan dan lautan. Firman Allah dalam surat Al-Israa’ ayat, 70.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak cucu Adam, Kami angkut mereka dari daratan dan lautan, Kami beri mereka dari rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S al-Israa : 70).

 

“And We have certainly honored the children of Adam and carried them on the land and sea and provided for them of the good things and preferred them over much of what We have created, with [definite] preference. (Q.S al-Israa : 70).

 

 

MACAM-MACAM AKHLAK BAIK KEPADA ALLAH SWT DAN PELAKSANAANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

 

a.  Cinta dan ridha kepada Allah SWT.

b.  Berbaik sangka kepada Allah SWT.

c.  Rela terhadap kadar dan qada (takdir baik dan buruk) dari Allah SWT.

d.  Bersyukur atas nikmat Allah SWT.

e.  Bertawakal/ berserah diri kepada Allah SWT.
f.  Senantiasa mengingat Allah SWT.
g. Memikirkan keindahan ciptaan Allah SWT.
h. Melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah SWT.                                                                   

i. Taubat kepada Allah SWT

Tobat adalah kembali ke jalan yang benar setelah menempuh jalan yang sangat sesat dan tidak tentu ujungnya.

j. Beribadah kepada Allah

Yaitu melaksanakan perintah Allah untuk menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya. Seorang muslim beribadah membuktikan ketundukkan terhadap perintah Allah.

k. Berzikir kepada Allah

Yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan dan ketentraman hati.

l.Berdo’a kepada Allah

Yaitu memohon apa saja kepada Allah. Do’a merupakan inti ibadah, karena ia merupakan pengakuan akan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu.

m.Tawakal kepada Allah

Yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan menunggu hasil pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan.

n.Tawaduk kepada Allah

Yaitu rendah hati di hadapan Allah. Mengakui bahwa dirinya rendah dan hina di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu tidak layak kalau hidup dengan angkuh dan sombong, tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih dalam melaksanakan ibadah kepada Allah.

m. Taqwa kepada Allah swt

Taqwa, yaitu memelihara diri dari siksaan Allah swt dengan cara melaksanakan perintah-perintah Allah swt dan menjauhi larangan-laranganNya dalam keadaan sepi maupun ramai. Sedangkan menurut Afif A. Tabarah taqwa adalah memelihara diri dari segala sesuatu yang dapat mengandung murka Allah swt dan mendatangkan mudharat bagi dirinya dan orang lain.Allah swt memerintahkan kepada orang yang beriman agar bertaqwa kepada Allah swt secara maksimal dengan mengerahkan semua potensi hingga finis kehidupan. Dan apabila kita mampu memaksimalkan taqwa maka hal tersebut akan menentukan derajad kemulyaan kita disisi Allah swt.

 

 

MACAM-MACAM AKHLAK BAIK KEPADA ALLAH SWT DAN PELAKSANAANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI :

1. Takabbur (Al-Kibru),

Yaitu suatu sikap yang menyombongkan diri, sehingga tidak mengakui  kekuasaan Allah di alam ini, termasuk mengingkari nikmat Allah yang ada padanya;

2. Musyrik (Al-Isyraak),

Yaitu suatu sikap yang mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya, dengan cara menganggapnya bahwa ada suatu makhluk yang menyamai kekuasaan-Nya;

3. Murtad (Ar-Riddah),

Yaitu sikap yang meninggalkan atau keluar dari agama Islam, untuk menjadi kafir;

4. Munafiq (An-Nifaaq),

Yaitu suatu sikap yang menampilkan dirinya bertentangan dengan kemauan hatinya dalam kehidupan beragama;

5. Riya (Ar-Riyaa),

Yaitu suatu sikap yang selalu menunjuk-nunjukkan perbuatan baik yang dilakukannya. Maka ia berbuat bukan karena Allah, melainkan hanya ingin dipuji oleh sesama manusia. Jadi per buatan ini kebalikan dari sikap ikhlas;

6. Boros atau berpoya-poya (Al-Israaf),

Yaitu perbuatan yang selalu melampaui batas-batas  ketentuan agama. Tuhan melarang bersikap boros, karena hal itu dapat melakukan dosa terhadap-Nya, merusak perekonomian manusia, merusak hubungan sosial, serta merusak diri sendiri.

7. Rakus atau tamak (Al-Itirshul atau Ath-Thama’u),

Yaitu suatu sikap yang tidak pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah apa yang seharusnya ia miliki, tanpa memperhatikan hak-hak orang lain. Hal ini termasuk kebalikan dari rasa cukup (Al-Qana’ah) dan merupakan akhlak buruk terhadap Allah, karena melanggar ketentuan larangan-Nya.

 

 

D.AKHLAQ TERHADAP SESAMA MANUSIA

 

Akhlak yang baik terhadap sesama manusia antara lain:

1. Belas kasihan atau sayang (Asy-Syafaqah),

yaitu sikap jiwa yang selalu ingin berbuat baik dan menyantuni orang lain;
2.  Rasa persaudaraan (Al-Ikhaa),

yaitu sikap jiwa yang selalu ingin berhubungan baik dan bersatu dengan orang lain, karena ada keterikatan bathin dengannya;

3.  Member nasihat (An-Nashiihah),

yaitu suatu upaya untuk memberi petunjuk-petunjuk yang baik kepada orang lain dengan menggunakan perkataan, baik ketika orang yang dinasihati telah melakukan hal-hal yang buruk, maupun belum. Sebab kalau dinasihati ketika ia telah melakukan perbuatan buruk, berarti diharapkan agar ia berhenti melakukannya. Tetapi kalau dinasihati ketia ia belum melakukan perbuatan itu, berarti diharapkan agar ia tidak akan melakukannya;

  1. Memberi pertolongan (An-Nashru),

yaitu suatu upaya untuk membantu orang lain, agar tidak mengalami suatu kesulitan;

  1. Menahan amarah (Kazmul Ghaizhi),

yaitu upaya menahan emosi, agar tidak dikuasai oleh perasaan marah terhadap orang lain;

  1. Sopan santun (Al-Hilmu),

yaitu sikap jiwa yang lemah lembut terhadap orang lain, sehingga dalam perkataan dan perbuatannya selalu mengandung adab kesopanan yang mulia;

  1. Suka memaafkan (Al-Afwu),

yaitu sikap dan perilaku seseorang yang suka memaafkan kesalahan orang lain yang pernah diperbuat terhadapnya.

 

 

Akhlak yang buruk terhadap sesama manusia antara lain:

1. Mudah marah (Al-Ghadhab),

yaitu kondisi emosi seseorang yang tidak dapat ditahan oleh kesadarannya, sehingga menonjolkan sikap dan perilaku yang tidak menyenangkan orang lain. Kemarahan dalam diri setiap manusia, merupakan bagian dari kejadiannya. Oleh karena itu, agama Islam memberikan tuntunan, agar sifat itu dapat terkendali dengan baik;

2. Iri hati atau dengki (Al-Hasadu atau Al-Hiqdu),

yaitu sikap kejiwaan seseorang yang selalu menginginkan agar kenikmatan dan kebahagiaan hidup orang lain bisa hilang sama sekali;

3. Mengadu-adu (An-Namiimah),

yaitu suatu perilaku yang suka memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain, dengan maksud agar hubungan social keduanya rusak

4. Mengumpat (Al-Ghiibah),

yaitu suatu perilaku yang suka membicarakan perkataan seseorang kepada orang lain;

5. Bersikap congkak (Al-Ash’aru),

yaitu suatu sikap dan perilaku yang menampilkan kesombongan, baik dilihat dari tingkah lakunya maupun perkataannya;

6. Sikap kikir (Al-Bukhlu),

yaitu suatu sikap yang tidak mau memberikan nilai materi dan jasa kepada orang lain;

7. Berbuat aniaya (Azh-Zhulmu),

yaitu suatu perbuatan yang merugikan orang lain, baik kerugian materiil maupun non materiil. Dan ada juga yang mengatakan, bahwa seseorang yang mengambil hak-hak orang lain, termasuk perbuatan dzalim (menganiaya).

 

 

E.AKHLAQ TERHADAP LINGKUNGAN

 

Lihatlah dampak eksploitasi alam secara berlebihan sudah sangat nyata terlihat. Pemanfaatan sumber daya alam tanpa aturan dan sikap acuh manusia jelas-jelas penyebab adanya krisis lingkungan.  Dan ini tentu kaitannya dengan kewajiban manusia yang sudah lupa dengan tugasnya sebagai khalifah.

Berkenaan dengan betapa pentingnya sumber daya alam bagi kehidupan, sesungguhnya manusia dituntut untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri atau kelompoknya saja, tetapi juga kemaslahatan semua pihak. Karena manusia diperintahkan bukan untuk mencari kemenangan, tetapi keselarasan dengan alam.

Sikap kesyukuran yang sudah mulai berkurang dari manusia, sebab kalam Allah dalam firmannya dalam Q.S. Thaha[20]: 53-54

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلا وَأَنْزَلَ مِنَ

السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّى

“yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. (Q.S Thaha : 53).

“[It is He] who has made for you the earth as a bed [spread out] and inserted therein for you roadways and sent down from the sky, rain and produced thereby categories of various plants. (Q.S Thaha : 53).

 

كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لأولِي النُّهَى

Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal(Q.S Thaha : 54).

“Eat [therefrom] and pasture your livestock. Indeed, in that are signs for those of intelligence. (Q.S Thaha : 54).

Oleh karena itu, sepantasnya manusia menjaga, melestarikan, dan memanfatkan sesuai dengan kebutuhannya sebagai ungkapan syukur atas pemberian-Nya.

Akhlak terhadap lingkungan dapat diwujudkan dalam bentuk perbuatan manusia yaitu dengan menjaga keserasian dan kelestarian serta tidak merusak limgkungan hidup. usaha-usaha yang dilakukan juga harus memperhatikan masalah-masalah kelestarian lingkungan. Apa yang kita saksikan saat ini adalah bukti ketiadaan akhlak terhadap lingkungan. Sehingga akhirnya, akibatnya menimpa manusia sendiri. Banjir, tanah longsor, kebakaran, dan isu yang sering dibicarakan yaitu “global warming” sedang mengancam manusia.

Oleh sebab itu, menurut Al-Qurtubi, makhluk-makhluk itu tidak boleh diperlakukan secara aniaya. Allah SWT menciptakan alam ini dengan tujuan yang benar, sesuai dengan firman-Nya, “Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Ahqaf: 3).

ا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ

وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

“We did not create the heavens and earth and what is between them except in truth and [for] a specified term. But those who disbelieve, from that of which they are warned, are turning away. (QS. Al-Ahqaf: 3).

 

Dalam Q.S. al-Baqarah[2]: 205, Allah swt. Berfirman yang terjemahnya:

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

“dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”.(QS. Al-Baqarah: 205).

“And when he goes away, he strives throughout the land to cause corruption therein and destroy crops and animals. And Allah does not like corruption. (QS. Al-Baqarah: 205).

Ini semua sesungguhnya mengingatkan manusia, sekali lagi tidak lupa terhadap kewajiban  dan tanggung jawab terhadap Allah

 

 

 

Akhlak Terhadap Lingkungan Hidup

  1. Yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala sesuatu yang disekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda yang tidak bernyawa.Pada dasarnya akhlak yang diajarkan al-Qur’an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta bimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaanya.
  2. Dalam pandangan Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya. Ini berarti manusia dituntut mampu menghormati proses yang sedang berjalan, dan terhadap proses yang sedang terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertangung jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia itu sendiri.
  3. Binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa semuanya di ciptakan oleh Allah SWT, dan menjadi milik-Nya, serta kesemuanya memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan seorang muslim untuk menyadari bahwa semunya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.


 

F.INDIKATOR MANUSIA BERAKHLAQ

 

 

Manusia berakhlak adalah manusia yang suci dan sehat hatinya, sedang manusia tidak berakhlak ( moral ) adalah manusia yang kotor dan sakit hatinya. Namun sering kali manusia tidak sadar kalau hatinya sakit. Kalaupun dia sadar tentang kesakitan hatinya, ia tidak berusaha untuk mengobatinya. Padahal penyakit hati jauh lebih berbahaya ketimbang penyakit fisik. Seseorang yang sakit secara fisik jika penyakitnya tidak dapat diobati dan disembuhkan ujungnya hanya kematian. Kematian bukanlah akhir dari segala persoalan melainkan pintu yang semua orang akan memasukinya. Tetapi penyakit hati jika tidak disembuhkan maka akan berakhir dengan kecelakaan di alam keabadian.

Indikator manusia berakhlak (husn al-khuluq), kata Al-Ghazali, adalah tertanamnya iman dalam hatinya. Sebaliknya manusia yang tidak berakhlak (su’u al-khuluq) adalah manusia yang ada nifaq di dalam hatinya. Nifaq artinya sikap mendua dalam Tuhan. Tidak ada kesesuaian antara hati dan perbuatan. Iman bagaikan akar dari sebuah tumbuhan. Sebuah pohon tidak akan tumbuh pada akar yang rusak dan kropos. Sebaliknya sebuah pohon akan baik tumbuhnya bahkan berbuah jika akarnya baik. Amal akan bermakna jika berpangkal pada iman, tetapi amal tidak membawa makna apa-apa apabila tidak berpangkal pada iman. Demikian juga amal tidak bermakna apabila amal tersebut berpangkal pada kemunafikan. Hati orang beriman itu bersih, di dalamnya ada pelita yang bersinar dan hati orang kafir itu hitam dan malah terbalik.

Taat akan perintah Allah, juga tidak mengikuti keinginan syahwat dapat mengkilaukan hati, sebaliknya melakukan dosa dan maksiat dapat menghitamkan hati. Barang siapa melakukan dosa, hitamlah hatinya dan barang siapa melakukan dosa tetapi menghapusnya dengan kebaikan, tidak akan gelaplah hatinya hanyacahaya itu berkurang. Dengan mengutip beberapa ayat Al Qur’an dan Hadits, selanjutnya Al-Ghazali mengemukakan tanda-tanda manusia beriman, diantaranya :

 

  1. Manusia beriman adalah manusia yang khusu’ dalam shalatnya
  2. Berpaling dari hal-hal yang tidak berguna (tidak ada faedahnya)
  3. Selalu kembali kepada Allah
  4. Mengabdi hanya kepada Allah
  5. Selalu memuji dan mengagungkan Allah
  6. Bergetar hatinya jika nama Allah disebut
  7. Berjalan di muka bumi dengan tawadhu’ dan tidak sombong
  8. Bersikap arif menghadapi orang-orang awam
  9. Mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri
  10. Menghormati tamu
  11. Menghargai dan menghormati tetangga
  12. Berbicara selalu baik, santun dan penuh makna
  13. Tidak banyak berbicara dan bersikap tenang dalam menghadapi segala persoalan
  14. Tidak menyakiti orang lain baik dengan sikap maupun  perbuatan

 

Sufi yang lain mengungkapkan tanda-tanda manusia berakhlak, antara lain :  Memiliki budaya malu dalam interaksi dengan sesamanya, tidak menyakiti orang lain, banyak kebaikannya, benar dan jujur dalam ucapannya, tidak banyak bicara tapi banyak bekerja, penyabar, hatinya selalu bersama Allah, tenang, suka berterima kasih, ridha terhadap ketentuan Allah , bijaksana, hati-hati dalam bertindak, disenangi teman dan lawan, tidak pendendam, tidak suka mengadu domba, sedikit makan dan tidur, tidak pelit dan hasad, cinta karena Allah dan benci karena Allah.

 

Ketika Rasulullah ditanya tentang perbedaan mukmin dan munafik, Rasulullah menjawab, orang mukmin keseriusannya dalam shalat, puasa dan ibadah sedangkan orang munafik kesungguhannya dalam makan minum layaknya hewan. Hatim al-‘Asam seorang ulama tabi’in menambahkan, bahwa indikator mukmin adalah manusia yang sibuk dengan berfikir dan hikmah, sementara munafik sibuk dengan obsesi dan panjang angan-angan, orang mukmin putus harapan terhadap manusia kecuali pada Allah. Sebaliknya orang munafik banyak berharap kepada sesama manusia dan bukan kepada Allah. Mukmin merasa aman dari segala sesuatu kecuali dari Allah, munafik merasa takut oleh segala sesuatu kecuali oleh Allah. Mukmin berani mengorbankan hartanya demi agamanya sedangkan munafik berani mengorbankan agamanya demi hartanya. Mukmin menangis dan berbuat baik, munafik berbuat jahat dan tertawa terbahak-bahak. Mukmin senang berkhalawat (bersemedi) sedang munafik senang keramaian. Mukmin menanam dan menjaga agar tidak terjadi kerusakan, munafik menuai dan mengharap keuntungan. Mukmin memerintah dan melarang (amar ma’ruf nahi munkar) untuk kekuasaan, maka kerusakannlah yang terjadi.

Kalau akhlak dipahami sebagai pandangan hidup, maka manusia berakhlak adalah manusia yang menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama makhluk dan alam dalam arti luas.

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: